You Are Here: Home » BUDAYA » Sejarah Ndolalak, Tarian Tradisional Dari Purworejo

Sejarah Ndolalak, Tarian Tradisional Dari Purworejo

Jawa Tengah merupakan salah satu propinsi di Indonesia yang sangat banyak memiliki adat istiadat dan budaya tradisional yang merupakan warisan peninggalan para leluhur dari masa lampau. Banyak sekali bisa ditemukan warisan budaya agung dari nenek moyang suku Jawa termasuk yang berada di wilayah propinsi Jawa Tengah. Warisan budaya sampai bangunan berupa cagar budaya masih bisa ditemukan sampai saat ini di banyak lokasi yang tersebar di wilayah kabupaten dan kotamadya yang ada di propinsi Jateng. Salah satu kabupaten di Jawa Tengah yang juga memiliki warisan budaya, cagar budaya, bangunan bersejarah, adat istiadat, ritual adat, dan yang termasuk berupa karya seni tari atau tarian tradisional adalah kabupaten Purworejo. Kesenian tari atau tarian asal Purworejo yang sangat populer atau paling terkenal adalah Ndolalak atau kesenian tari Dolalak.

Dikutip dari blog http://abdulhadidjokolelono.blogspot.com, bahwa sejarah Ndolalak, tarian tradisional dari Purworejo memiliki asal usul kata Dolalak yang diambil dari ucapan serdadu Belanda pada masa penjajahan. Istilah Dolalak diambil dari kata do la la ya yang merupakan ucapan notasi dari lagu diatonis  yang dinyanyikan para serdadu Belanda yang mana saat menyanyikan mereka juga sambil menari. Kata do la la adalah notasi lagu yaitu dari notasi 1 – 6 – 6, dan pada perkembangannya oleh masyarakat Purworejo yang memiliki logat atau dialek Bandek, maka pengucapannya menjadi Ndolalak. Kemudian gerakan tari para serdadu Belanda tersebut juga ditirukan oleh masyarakat di sekitar markas atau tangsi Belanda pada waktu itu menjadi gerakan tari Dolalak. Selanjutnya untuk kostum tarian Dolalak atau busana tari dolalak juga sangat mengadopsi dari model kostum baju serdadu Kompeni atau Belanda yang berhias rumbai-rumbai di bagian topi dan pundak.

Menurut cerita yang dikabarkan, bahwa sejarah Ndolalak Purworejo pada awal mulanya dikreasikan oleh 3 bersaudara yang kebetulan mereka adalah para santri pada masa penjajahan Belanda di tahun 1925. Mereka adalah Rejotaruno, Ronodimejo, dan Duliyat. Sekitar tahun 1925 ketiga santri itu bersama warga yang sempat menjadi serdadu Belanda membentuk Kesenian Ndolalak. Pada awalnya kesenian Dolalak tidak diiringi instrumen musik, tapi hanya dengan vokal lagu yang dinyanyikan secara bergantian oleh para penari Ndolalak. Lambat laun kesenian Dolalak bisa diterima oleh masyarakat sehingga semakin banyak warga yang tertarik untuk menonton dan juga belajar tari Ndolalak. Sehingga perkembangan kesenian Dolalak selanjutnya diiringi dengan musik yang dipadu dengan tembang Jawa dan juga sholawatan. Pada awalnya tari Ndolalak dilakukan hanya oleh kaum pria atau laki-laki saja, termasuk untuk kreasi pola lantai tari Dolalak, dan hanya terbatas pada wilayah tertentu.

Perkembangan kesenian Ndolalak Purwerejo selanjutnya terus mengalami perubahan yang mana sudah boleh dilakukan oleh kaum wanita serta bisa dipertunjukkan di seluruh wilayah Purworejo. Wilayah perkembangan tarian Dolalak dimulai dari desa Kaligoro ke Kaligesing sampai hampir ke seluruh kecamatan Kaligesing memiliki grup kesenian Dolalak. Selanjutnya, dari kecamatan Keligesing, tarian Dolalak bisa masuk sampai ke kota Purworejo dan menjadi tontonan menarik yang disukai penduduk di kota Purworejo pada waktu itu. Kemudian pada perkembangan berikutnya, karena semua lapisan masyarakat di wilayah kabupaten Purworejo menilai bahwa tarian Dolalak merupakan pertunjukan rakyat yang sehat dan menarik, maka masyarakat, pemerintah, dan instansi terkait selalu berusaha untuk mengapresiasi, melestarikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan kesenian Ndolalak agar bisa selaras dengan kemajuan jaman.

Kesenian Dolalak yang di daerah lain mirip dengan kesenian Angguk ini juga sebagai sarana atau media untuk pengumpulan massa dan sebagai hiburan yang sehat, murah, meriah. Pada saat ini kesenian Dolalak diiringi dengan instrumen musik lebih beragam, seperti beduk, kendang, rebana atau terbang, kentongn, kecer atau kecrek, pianika, dan orjen. Kemudian untuk lagu atau syair yang dinyanyikan adalah campuran menggunakan bahasa Jawa romantis dan bahasa Indonesia. Untuk tata rias tari Dolalak meliputi make up penari Ndolalak, tata busana penari, slempang atau slendang, topi pet, kacamata, sampai kaos kaki. Penggunaan kacamata hanya saat pertunjukan Ndolalak dimana jika ada sesi penari akan kesurupuan atau ndolalak mendem (trance). Perkembangan kesenian Ndolalak Purworejo Jawa Tengah sampai sekarang di 2018 memang sudah sangat didominasi oleh para penari wanita, baik anak-anak, ndolalak remaja, maupun usia dewasa sebagai penari Ndolalak putri Purworejo.

About The Author

Untuk bergabung dengan Group Aku Cinta Kebumen di Facebook, silahkan buka link ini => Aku Cinta Kebumen

Number of Entries : 170

Leave a Comment

© 2014. Facebumen - Aku Cinta Kebumen. Supported by Tips & Trik

Scroll to top