You Are Here: Home » SEJARAH » Sejarah Kebumen

Sejarah Kebumen

1aDinamika Sejarah dan Sosial Budaya
Kabupaten Kebumen

BAGIAN : 1
Oleh : MT Arifin
(dosen UNS, peneliti sejarah-budaya, pengamat militer, kolektor keris)

Informasi Sejarah Kebumen. “Kebumen”, merupakan pengertian kesatuan teritorial (teritoriale rechtgemeenschappen) yang sejak awal pembentukannya selalu mengalami perkembangan pasang surut, sesuai dengan keadaan wilayah serta perubahan-perubahan kekuasaan dan administratif yang berlangsung pada sepanjang zaman-zamannya.[2] Perihal kewilayahan Kebumen yang lebih jelas, tampaknya baru muncul setelah terbentuknya kerajaan-kerajaan di Jawa bagian Tengah, yang berada dalam kompleks tanah-tanah “Pagelèn” (Bagelèn). [3] Sebutan Bagelen itu telah muncul dalam kajian sejarah pada zaman Pajang dan Mataram, yang juga pernah dikenal dengan sebutan “Krapyak”. [4] Pada masa yang jauh lebih tua lagi, wilayah Bagelèn disebut sebagai tanah “Medhang-gelé”, yang setelah menjadi pusat kekuasaan, kemudian disebut tanah Medhang Kuno III (“Medhangkamulan III”). [5]

Informasi tentang Bagelèn itu dapat diperoleh dari beberapa sumber, di antaranya berasal dari Serat Palindriya (disusun oleh Empu Sunda di Mamenang pada tahun Suryasengkala 852 bertepatan tahun Candrasengkala 878, direproduksi Raden Ngabehi Ranggawarsita di Surakarta).[6] Menurut keterangan serat itu, wilayah Bagelèn disebut tanah Medhang-gelè, mulai dibuka untuk permukiman penduduk oleh sekelompok orang yang diprakarsai oleh Resi Wrahaspati. Kegiatan tersebut berlangsung pada masa Srawana tahun Rudraksa, yang menurut perhitungan tahun Suryasangkala 360 bertepatan tahun Candrasangkala 371. Setelah keadaan permukiman penduduk semakin berkembang, kemudian dilakukan penataan-penataan untuk membentuk jalannya roda pemerintahan, dengan Resi Wrahaspati sebagai raja dengan gelar Prabu Palindriya. Sebagai suatu kerajaan, namanya dirubah menjadi Medhang Kuno III (Medhangkamulan III).[7] Namun pada sekitar limapuluh empat tahun kemudian, wilayah ini mengalami kemunduran, terutama setelah Prabu Wisnupati memindahkan kedaton ke daerah hutan Nastuti atau Alas Roban (Kendal),[8] yang posisinya lebih dekat dengan jalur pantai utara.

Tentang perihal letak pusat wilayah Bagelèn dan kaitannya dengan lokasi daerah Kebumen, keterangannya mulai muncul pada sekitar enam ratun tahun kemudian.Yakni tatkala salah seorang putera dari Pangeran Martawijaya yang bergelar Sri Gentayu dan cucu Prabu Kandhiawan di Prambanan, yang merupakan keturunan Prabu Suwélacala, dinobatkan menjadi raja di wilayah Pagelèn yang penduduknya mengandalkan hidup dari pertanian, setelah ia dikawinkan dengan salah seorang puteri dari Adipati Jayèngpura di Pagelèn.[9] Sang Pangeran itu adalah Raden Panuntun atau Raden Jaka Panuhun yang bergelar Sri Manuhun, yang memegang pemerintahan dari ibukota kerajaan yang berlokasi di Kutoarjo. Sri Manuhun adalah saudara tertua dari Jaka Kanduyu yang kemudian bergelar Sri Mahapunggung II dari negeri Purwacarita (Purwadadi). [10]

Karena dua anak dari isteri terdahulu itu mengalami cacat fisik, maka Sri Manuhun kawin lagi dengan mempersunting Rara Srini, puteri dari Kyai Buyut Somalangu di Sendangkulon. Ki Buyut Somalangu adalah putera dari Buyut Salinga dan cucu dari seorang biksu sakti bernama Resi Samahita.[11] Menurut ceritera rakyat yang berkembang di daerah Purworejo, pada saat Prabu Panuwun pergi ke suatu sendang di Somalangu, kemudian ia memperistri anak gadis dari Kyai Somalangu. Dari perkawinan itu dinugerahi seorang puteri yang bernama Raden Rara Weten, yang kelak lebih dikenal dengan sebutan sebagai Nyai Bagelèn. Rara Weten diperistri oleh Pangeran Ngawu-awu Langit di daerah Grabag (Kutoarjo). Pada saat Prabu Panuwun pindah ke Hargapura (Hargareja), maka Pangeran Ngawu-awu Langit menggantikan kedudukan sebagai penguasa di Bagelen.[12] Kedua keterangan itu merupakan mitologi tertua tentang daerah Kebumen, yang menyinggung tokoh cikal-bakal padhukuhan Somalangu.[13]

Informasi yang lebih kemudian tentang tanah Bagelèn muncul dalam kaitan dengan tanah Galuh, yang pada saat menjadi pusat kekuasaan dibawah kekuasaan Prabu Banjaransari (yang berasal dari daerah Jenggala). Tanah Bagelèn-Kedu merupakan bagian dari kerajaan Galuh. Tatkala Galuh mulai memiliki pengaruh di tanah Jawa, para penguasa lokal di wilayah timur (Bang Wetan) melakukan penentangan, Raja Galuh Diningrat mengutus penguasa daerah Bagelèn dan Kedu bernama Prabu Sangkan (yang didampingi Adipati Raden Banyak Supatra), sebagai duta untuk menghadap pimpinan mereka, yakni Adipati Kalukung, yang sedang mengadakan pertemuan di daerah Jagaraga.[14] Setelah pusat kerajaan itu mengalami pergeseran ke arah barat, kemudian daerah Pengging tumbuh menjadi kerajaan yang cukup kuat dan kemudian memisahkan diri dari Majapahit. Mungkin terjadi pada saat raja Majapahit di Wengker, Bhre Kertabhumi (1468-1478M), dikalahkan oleh Prabu Girindrawardhana di Kediri tahun 1748M. Pada saat Majapahit terpecah-pecah, maka tanah Bagelèn, Kedhu dan Tanah Menthaok berhasil ditaklukkan oleh penguasa daerah Pengging atas bantuan Ki Buyut Pengging. Wilayah-wilayah itu kemudian ditempatkan di bawah kekuasaan raja Pengging bernama Joko Bodho yang bergelar Sri Makurung.[15] Setelah Pengging diancam akan dikepung tentara Majapahit, kemudian Sri Makurung segera menghadap raja dan menyatakan dirinya ingin mengabdi dan setia kembali kepada Majapahit di Kediri, yakni Prabu Girindrawardhana Dyah Ranawijaya (1474-1519 M). Ia kemudian diangkat sebagai menantu dan tetap berkuasa di daerah Pengging dengan gelar Pangéran Handayaningrat. Kekuasaan Pengging meliputi wilayah barat kaki Gunung Lawu sampai kaki Gunung Merapi dan sekitarnya, serta kaki Gunung Sumbing dan sekitarnya. Pada saat penguasa Pengging digantikan oleh Kebo Kenanga atau Pangéran Handayaningrat Muda pada masa Demak, tanah Bagelén dan Kedu masih berada di bawah Pengging.[16] Alasan ini yang kemudian mengapa tanah Bagelèn berada di bawah Kasultanan Pajang, setelah surutnya Kasultanan Demak.

Sedangkan informasi tentang Somalangu yang lain juga diperoleh dari prasasti batu zamrud (batu warna hijau dengan berat 90 kg), yang tersimpan di pondok pesantren Somalangu, yang berangka tahun hijriyah 979 atau 1475 Masehi. Bertolak dari prasasti, maka diperkirakan pada saat itu pondok pesantren Somalangu sudah mulai berdiri. Konon, dari pelbagai manuskrip dan kitab-kitab kuno yang tersimpan, serta risalah sejarah Kebumen, daerah Kebumen pada masa itu dinyatakan masih berupa rawa-rawa dan hutan-hutan, sedangkan desa Somalangu masih merupakan hutan lebat. Pondok pesantren didirikan oleh Sayid Muhammad Ishom al-Hasani yang lebih dikenal dengan sebutan Syeikh Abdul Kahfi, salah seorang ulama yang berasal dari Jamhar, Hadramaut di Yaman. Konon, awalnya Syeikh Abdul Kahfi suka mengembara ke dalam goa-goa (sehingga dijuluki Abdul Kahfi), yang kali pertama mendarat di sekitar pantai Karangbolong. Kemudian melanjutkan perjalanannya dengan berjalan kaki ke arah Karanganyar, yang saat itu daerah ini sudah banyak penghuninya. Ia berhasil mengajak Resi Darapundi untuk masuk agama Islam, dan desanya disebut Candi. Dalam perjalanan ke arah timur, Syeikh Abdul Kahfi bertemu Resi Candratirta (desa Candimulyo) dan Danutirta (desa Candiwulan) yang tidak jauh lokasinya dari desa Sumberadi, dan kemudian diajaknya pula masuk agama Islam. Dalam kisah tutur, konon Abdul Kahfi dinyatakan sebagai menjadi salah satu di antara penasehat dari Raden Patah di Demak, serta pernah diminta untuk mewakili Sunan Ampel dalam sebuah forum ulama yang membahas tentang pengikut dari Syeikh Siti Jenar. Konon pula, Hang Tuah sebagai seorang tokoh ulama keturunan Cina Melayu, juga pernah mengunjungi Somalangu. [17]
***
Daerah pesisir selatan yang berpusat di desa “Bocor”, merupakan salah satu bagian dari wilayah Kabupaten Kebumen yang lain yang sering disebut-sebut dalam sejarah Kebumen, yang muncul sebagai salah satu pusat otoritas politik pada akhir zaman Kasultanan Demak. Pada saat Kasultanan Demak berusaha memperkuat kontrolnya atas wilayah pedalaman Jawa, Adipati Pasir Luhur (Banyumas) yang bernama Banyak Belanak, secara sukarela memeluk agama Islam atas bimbingan salah seorang murid dari Sunan Kalijaga, yakni Syeikh Makdum. [18] Tokoh ini ditugaskan oleh Sultan Demak untuk berkelana ke daerah pedalaman Jawa, guna menyebarkan agama Islam. Karena jasa-jasanya terhadap sultan pertama, yakni Raden Patah (termasuk kemudian partisipasinya dalam pembangunan masjid Demak dan dukungannya terhadap usaha-usaha sultan pada saat melakukan penguatan kontrolnya atas wilayah Jawa Timur), maka kepadanya Raden Patah menganugerahkan gelar “Senapati Mangkubumi” kepada Adipati Banyak Belanak, atau sering disebut “Pangeran Senopati”.[19]

Setelah pemerintahan di Kasultanan Demak dipegang oleh Sultan Trenggana dan sebagai penguasa Kadipaten Pasir Luhur maka Adipati Banyak Belanak sudah digantikan oleh Pangeran Thole, kemudian pada akhirnya sang pangeran dianggap murtad dan bersikap mbalela terhadap sultan Demak. Kasus itu sebenarnya lebih merupakan rekayasa politik yang dilakukan oleh pamannya, yakni Patih Wirakancana, yang berambisi untuk menduduki tahta kadipaten Pasir Luhur. Akhirnya, Demak berusaha memulihkan kekuasaan atas wilayah Pasir Luhur dengan melakukan ekspedisi militer. Pangeran Thole diusir setelah dikhianati pamannya, yakni Patih Wirakancana, yang kemudian diangkat sebagai adipati yang baru dengan sebutan Pangeran Senapati II. Panglima andalan dari Pangeran Thole, yakni Carang Andul dan Binatang Karya, mengalami kekalahan dan gugur di medan pertempuran, sehingga kemudian Pangeran Thole harus melarikan diri ke daerah Bocor (wilayah pantai selatan kota Kebumen), yang dikenal sebagai tanah dari para menantu Adipati Kandhadaha dari Pasir.[20] Keberadaan daerah pesisir selatan yang berpusat di Bocor, merupakan salah satu teritori yang akan menjadi salah satu kontribusi penting bagi sejarah Kebumen dan terbentuknya wilayah Kebumen.

Keturunan dari Pangeran Thole, yakni Ki Bocor, tercatat sebagai salah seorang kenthol (penguasa setempat) yang popular, sebagai pemimpin penentu bagi para penguasa lokal yang ada di wilayah Bagelèn dan Kedu, untuk mendukung berdirinya kerajaan Mataram dan menjadi pengikut pertama dari Panembahan Senapati saat melepaskan diri dari Kasultanan Pajang. Ki Bocor yag kemudian lebih dikenal dengan sebutan Ki Tumenggung Bocor, akhirnya beredudukan sebagai pemimpin tertinggi untuk penguasa-penguasa lokal yang ada di tanah Bagelèn, sejak zaman Kasultanan Pajang hingga zaman pemerintahan Sultan Amangkurat I di kerajaan Mataram. Sebagaimana dibahas dalam “Babad Tanah Jawi”, pada saat sejumlah 200 mantri pemajegan dari wilayah Bagelèn dan Kedu yang dipimpin Ki Bocor sedang dalam perjalanan ke keraton Pajang untuk menyerahkan hasil pajak bumi, di tengah jalan disambut oleh Panembahan Senopati, dan dijamu dengan segala kehormatan dan layanan. Sehingga kemudian mereka menjanjikan bantuan dan kesetiaan kepada Panembahan Senopati, manaka;a terjadi perang melawan musuh, dan bila perlu dengan pertumpahan darah. Mereka juga berjanji akan membayarkan hasil pajak buminya kepada Panembahan Senapati, “karena sama saja artinya; tidak hanya di Pajang yang ada raja, tetapi juga di Mataram.“ Panembahan Senapati pun segera menjanjikan kedudukan yang tinggi kepada mereka. Mereka kemudian memperagakan tarian perang serta memamerkan kekuatan gaib dan kekebalan, dengan menahan ujung tombak dan lemparan batu dengan tubuhnya. Di antara mereka, Ki Bocor ingin menguji kekebalan Panembahan Senopati dengan keris Kebo Dhengen, yang terkenal tajam. Panembahan Senopati membiarkan dirinya ditusuk dari arah belakang oleh Ki Bocor, sampai akhirnya Ki Bocor kehabisan tenaga dan kemudian menyatakan kesetiaannya.[21] Ini berlangsung sekitar tahun 1587 Masehi. Kemudian tumbuh hubungan-hubungan kepatronan, yang mana pada tahun itu kemudian meletus pertempuran di Prambanan antara pasukan Mataram dan Pajang, yang dimenangkan oleh pihak Mataram. Menurut catatan De Graaf, Senopati berhasil mengajak sebagian besar kelompok penduduk Jawa Tengah dari selatan hingga utara untuk mengikuti dia, tetapi yang menjadi pendukung utama adalah wilayah Bagelèn dan Kedu. [22]

Pada saat Panembahan Seda ing Krapyak (1601-1613) ditabalkan menjadi raja Mataram yang baru, seluruh pejabat istana dan kepala daerah hadir dalam pelantikan, yang kehadirannya itu dikawal oleh pasukan keamanan, yang terdiri dari wong ing Kedu lawan Bagelèné. [23] Tatkala meletus pemberontakan di wilayah pesisir utara yang dipimpin Adipati Demak, yakni Pangéran Puger (1602-1605), maka pasukan Mataram dikirim untuk menumpas pemberontakan, dimana barisan terdepan yang memimpin adalah pasukan dari tanah Bagelèn dengan dipimpin sebagai komandannya adalah Tumenggung Bocor (sekarang Buluspesantren), dibantu Ki Ngabèhi Ngrawa (sekarang Mirit), Ki Tumenggung Ngawu-awu (sekarang Kutoarjo), Ki Rangga Kalegèn, Ngabehi Kaleng (sekarang Puring), Ngabehi Jenar (di sebelah utara Purworejo), Ngabehi Jayuda dari Nglugu, Ki Rangga Sura, Ngabehi Sangutoya (sekarang Buluspesantren), Ngabehi Jayawikrama dari Sampang, dan Nilasrabra dari Kredhetan. [24]
Tidak lama setelah berkuasa, Panembahan Seda ing Krapyak mangkat dan digantikan oleh Sultan Agung Hanyakrakusuma. Pada saat Sultan Agung melakukan serangan untuk menaklukkan wilayah Jawa bagian timur (1614 M), pasukan Bagelèn yang terdiri dari wong Numbak Anyar dan wong Sewu berada di ujung depan pasukan Mataram. [25] Tumenggung Alap-alap ditugas untuk memimpin pasukan yang menyerang daerah Lumajang dan Ngernon, dengan kekuatan inti berasal dari pasukan Bagelèn dan Kedu (wong Sewu, wong Bumi dan wong Numbak Anyar), [26] Pada saat menyerang daerah Wirasaba (1615 M), pasukan Bagelèn berada di bagian tengah dan dipimpin oleh Ki Bocor, serta petinggi daerah yang lain, yakni: Kiai Rangga dari Kalegen, Ngabehi Kaleng, Ngabehi Ngrawa, Ki Ngabehi Jagayuda dari Ngawu-awu, Kiai Jayuda dari Nglugu, Ki Sangupati dari Jenar, Nilasraba dari Karendhetan, Ki Wiryagati dan Caranuka dari Telaga, Driyanala dari Sangubanyu, Wiraraga dari Semawung, Ki Setrapati dari Cepor, Ki Ngabehi Jayawikrama dari Sampang, dan Ki Wirayuda dari Ngremo (Karanganyar). Disambung dengan Adipati Wirakusuma yang memimpin seribu para mantri wong Sewu, dengan Ki Wirapatya sebagai kliwonnya di bagian belakang. [27]

Pangeran Puger sebagai putera ketiga Susuhunan Amangkurat I, ditabalkan menjadi raja Mataram di Jenar (Purworejo) dengan gelar Kanjeng Sunan Ngalaga, yang dihadiri para mantri dari Bagelèn, yang wedananya adalah Ki Tambakbaya dan Harya Surajaya. Pasukan Bagelèn ini yang kemudian bergerak ke medan perang untuk merebut keraton yang diduduki orang-orang Madura, dan akhirnya berhasil dikuasai kembali. [28] Sedangkan Pangéran Adipati Anom, di Banyumas dinobatkan menjadi raja Mataram dengan gelar Susuhunan Amangkurat II. Kemudian meminta bantuan kompeni di Betawi, untuk dapat mengusir musuh dan merebut kembali keraton Mataram. Orang-orang Kedu mendukung Amangkurat II berkat ke berhasilan Harya Sindureja mempengaruhi mereka setelah berhasil meyakinkan tokoh setempat, Ki Wangsacitra. Setelah mengalahkan pasukan Madura pimpinan Tarunajaya dengan bantuan kompeni, Amangkurat II kembali ke Mataram lewat Semarang, dan memutuskan untuk memindahkan keraton ke Kartasura. Tampaknya antara Sunan Ngalaga dan Amangkurat II tidak dapat didamaikan, dengan alasan bekerjasama dengan kompeni. Amangkurat II menyiapkan pasukan untuk memerangi adiknya yang ada di Plered. Sunan Ngalaga menempati keraton Plered didukung para pejabat Mataram termasuk Demang Kaleng, Harya Tambakbaya dan Harya Surajaya. Juga Ngabehi Panjer, Ki Bocor, Jenar, Nilasraba dll. [29] Orang-orang Bagelen siap membela rajanya menghadapi musuh, dan terjadi pertempuran terbatas dengan orang-orang Kartasura. Setelah pertempuran besar, akhirnya Susuhunan Amangkurat berhasil mengajak Sunan Ngalaga berdamai, setelah pemberontakan Raja Namrud di Salinga. Para pemimpin Bagelèn masih setia pada Pangeran Puger, hingga memperoleh peringatan dari raja dan mereka dibebaskan dari hukuman atas tanggungan Pangeran Puger; namun penguasaan atas tanah Bagelèn dipecah-pecah.[30]

Kasus ini tampaknya telah memperkecil atau merosotnya keterlibatan para tokoh dari tanah Bagelèn atas peran-peran yang penting dan mempengaruhi pelbagai kebijakan dan pengambilan keputusan di istana Mataram, seperti pada masa-masa sebelumnya. Sejak masa pemerintahan Kartasura hingga masa-masa yang lebih kemudian, tanah Bagelèn akan lebih banyak menjadi kantong-kantong yang berperan dalam pergolakan politik dalam konflik elit dan perlawanan yang terjadi di Mataram. Seperti pada saat untung Surapati lari dari Betawi dan kemudian membangun kekuatan di tanah Banyumas dengan mendukung pemberontakan Suradenta dan Suradenti, maka Tumenggung Banyumas dan pasukannya mengungsi ke arah timur, dan mendirikan pakuwon di Kali Jirak, Panjer Ngrema. Namun tatkala pasukan di tempat ini berhasil digempur dan lari ke Kartasura, pakuwon Kali Jirak kemudian dijadikan basis dari Untung Surapati dan pasukannya, yang dipimpin Bun Jaladriya. [31] Setelah berhasil memperoleh kepercayaan dari patih dan raja di Kartasura untuk mengatasi pemberontakan Suradenta-Suradenti, maka dari pangkalan Kali Jirak ia memimpin penggempuran pasukannya ke Banyumas, dan kedua pemimpin pemberontakan dihukum mati di Kali Jirak. [32] Hal seperti itu dimungkinkan karena Bagelen merupakan salah satu wilayah yang memiliki kebebasan.

About The Author

Untuk bergabung dengan Group Aku Cinta Kebumen di Facebook, silahkan buka link ini => Aku Cinta Kebumen

Number of Entries : 141

Comments (4)

Leave a Comment

© 2014. Facebumen - Aku Cinta Kebumen. Supported by Tips & Trik

Scroll to top